Parenting, Syifana

Pujian & Kritikan Produktif untuk Syifana

Hari ini adalah hari kedua tantangan Game Kelas Bunda Sayang IIP. Jika kemarin saya mencoba salah satu poin Komunikasi Produktif bernama “Memberi Pilihan”, maka kali ini saya akan mencoba poin “Pujian atau Kritikan”. Tentu saja bukan pujian dan kritikan biasa, tapi sebuah pujian atau kritikan yang produktif, yang membangun semangat anak untuk menjadi lebih baik, bukan malah menyanjung terlalu tinggi, bukan pula menjatuhkan hingga ia jadi tak percaya diri. Sebuah pujian yang mengapresiasi bahwa ia telah bersikap baik dan sebuah kritikan yang menujukkan penolakan kita akan sikap buruknya, bukan pribadinya.

Dalam ilmu Komunikasi Produktif yang baru saja saya pelajari, sebuah pujian atau kritikan dapat dikatakan produktif apabila kita menyebutkan hal spesifik apa yang telah ia lakukan, bukan men-generalisir sikapnya lewat komentar kita. Mungkin ini agak sulit dan butuh latihan, tapi dengan niat yang kuat insyaAllah saya bisa mulai memperbaiki cara saya dalam memuji dan mengkritik.

Seperti yang saya coba lakukan hari ini. Ada dua momen dimana saya bisa mencoba mengaplikasikan teknik memuji dan mengkritik anak secara produktif.

Momen pertama yakni saat Syifana sedang bermain dengan adiknya. Dia tidak bersikap baik dengan membentak adiknya karena tidak mau diganggu mainannya. Saya langsung menghampiri mereka.

“Kenapa Kak?”

“Dedeknya main disana aja. Kakak disini…” ujarnya dengan muka sebal.

“Tapi kan Kakak bisa ngomong baik-baik. Nggak usah teriak Kak…” Saya berusaha menjelaskan padanya.

Keriuhan antara kakak beradik yang berebut mainan, atau berebut area bermain memang sebuah keniscayaan. Maka saya berusaha tenang dan meyakinkan diri saya bahwa saya bisa mengatasi mereka.

“Coba deh sini Kakak duduk sama Bunda”, sambil memangkunya di hadapan saya.

Saya mulai menyelami perasaannya, kenapa dia bersikap seperti tadi pada adiknya. Lalu sambil tersenyum ia menjelaskan dengan lugunya dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun bahwa sikapnya tadi memang harus ia lakukan untuk mempertahankan dirinya. Kalau sudah berbicara lugu begitu hati saya luluh. Yeah, she’s still a child. Pikiran mereka tidak seperti orang dewasa.

“Kak, Bunda nggak suka ya kalau Kakak teriak-teriak sama dedek. Kan Kakak harus jadi contoh yang baik buat dedeknya. Kan kalo kayak tadi nggak shalihah Kak… Allah nggak suka.”

Dia tersenyum mengangguk-angguk, “Iya Bunda…”

Duh hati saya meleleh berbunga-bunga kalau sudah disuguhi senyum manis nan lugu Syifana. Mungkin kata-kata dan kalimat saya masih harus saya atur lagi di kemudian hari, agar pilihan kata yang terucap benar-benar berefek baik bagi anak-anak saya. That’s my homework!

***

Di sore hari, beberapa saat setelah bangun dari tidur siangnya, tiba-tiba Syifana meminta sesuatu yang tidak pernah ia minta sebelumnya.

“Bunda, aku mau mandi sendiri ya, tapi Bunda nggak usah sama aku…” pintanya.

Wah! Surprise banget ini! Saya langsung bersemangat menyiapkan handuk dan perlengkapan mandi yang bisa dijangkau olehnya. Setiap mandi Syifana memang saya biasakan menggosok gigi sendiri, walau misalkan setelah saya evaluasi, saya gosok ulang jika kurang bersih. Syifana juga saya biasakan menggosok badannya sendiri pakai spons, juga membilas badannya sendiri dengan gayung kecil. Jika kurang merata atau masih ada sisa busa sabun yang menempel, maka akan saya bantu mengarahkan gayungnya agar badannya bersih merata.

Tapi kali ini saya tidak boleh menemaninya. Syifana ingin mencoba sesuatu yang baru, yakni mandi sendiri. Ah, I think this is a moment! Inilah saatnya saya menerapkan “Pujian Produktif”. Maka saat proses mandi dan memakai pakaiannya telah selesai, saya berujar antusias padanya,

“Kakak, bunda bangga banget deh sama Kakak, soalnya Kakak mau mandi sendiri. Kakak kereeeen deh!” sambil saya peluk dan cium.

Efeknya, Syifana terlihat sangat puas dan bahagia dengan inisiasinya untuk mandi sendiri. Lalu ia mengutarakan pada saya bahwa besok-besok Syifana akan mandi sore sendiri. I’m amazed!

Ah, betapa kata-kata telah membuat saya belajar hari ini. Kata-kata yang menjelma sebagai pujian atau pun kritikan, jika diungkapkan dengan baik maka akan berdampak baik pula bukan hanya bagi sang anak, tapi juga ibunya. 😀

#level1

#day2

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *