Parenting, Syifana

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Memasuki materi ke delapan Kuliah Bunda Sayang IIP, saya agak deg-degan. Kira-kira apa ya materinya, apa ya tugasnya. Mengingat materi-materi yang sudah dilalui cukup sulit dan menantang bagi saya. Dan ternyata… eng ing eng…. It’s about finance! Mengajarkan konsep rejeki pada anak-anak sekaligus tentang bagaimana agar anak kita cerdas secara finansial. Wow! It’s a big achievement!

Syifana dan Falisha belum mengenal nilai uang sama sekali. Saya dan suami belum pernah mengajarkan konsep uang dan makna rejeki secara khusus pada anak-anak. Maka tugas level 8 ini sedikit menyentil  kami sebagai orangtua. Thanks to IIP! Nah, kembali ke konsep uang dan rejeki dalam benak anak-anak saya. Selama ini mereka hanya mengenal uang mainan atau celengan yang diisi oleh uang receh, dan celengan itu pun bisa dibuka tutup sehingga uang-uang receh bisa dijadikan mainan saat mereka bosan dengan mainan yang ada. 😀

Maka bisa ditebak, anak-anak saya yang juga tak pernah melakukan transaksi keuangan sederhana berupa aktivitas “jajan”, menjadi miskin sekali pengetahuannya tentang apa itu fungsi uang, dan bagaimana cara memperlakukannya. Di titik ini saya merasa buruk sekali sebagai orangtua, betapa saya abai akan hal ini. x_x

Nah, saatnya bangkit dari keterpurukan. Mengubah keadaan yang terlanjur diabaikan. Kali ini saya akan memulai tugas level 8 dengan hal yang paling mendasar dan sederhana terlebih dahulu, terutama karena anak-anak saya berusia di bawah 7 tahun. Apa hal mendasar dan sederhana itu? Yakni mengajarkan pada mereka tentang apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Dimanakah perbedaannya? Bisa kah mereka mendapatkan kebutuhan sekaligus keinginannya? Apa itu makna rejeki? Dari siapa rejeki di dapat?

Alhamdulillah beberapa kali saya menemukan kesempatan itu. Mengajak anak-anak berbicara saat mereka sedang tidak mengantuk, tidak lapar, dan tidak moody. Saya mulai dengan bertanya pada si sulung, Syifana.

Bunda : “Kak, Kakak tau nggak apa itu kebutuhan?”

Syifana : “Nggak, aku nggak tau”

B : “Kalau keinginan? Tau nggak?

S : “Mmm… nggak tau!” jawabnya sambil senyum riang

B : “Gini, Bunda jelasin dulu ya apa itu kebutuhan dan keinginan. Kalo kebutuhan itu, segala sesuatu yang harus Kakak penuhi, misalnya makanan atau minuman, karena Kakak akan laper dan lemes kalo nggak makan, ya kan? (Syifana mengangguk, sedangkan Falisha si adik sepertinya ikut mencuri dengar, saya melanjutkan) Kalo keinginan itu, semua yang kakak pengen, misalnya, Kakak ingin beli Play Doh My Little Pony (matanya langsung berbinar2 terang :D), nah itu keinginan. Kakak ingin, tapi nggak butuh, jadi tidak harus dipenuhi… gitu Kak.”

Jujur saja saya tidak terlalu yakin dia langsung mengerti, dan saya pun tidak berharap demikian. Saya telah siap jika ia belum paham dan saya akan menjelaskannya lagi di waktu yang lain. But… Syifana terlihat berpikir sejenak, mengangguk-angguk, dan tersenyum. Lalu saya uji dengan bertanya.

B : “Jadi sekarang Kakak tau belum, apa itu kebutuhan dan keinginan? (Ia tersenyum) Sekarang bunda tanya nih, kalo kebutuhan itu apa?

S : “Yang harus dipenuhi”

B : “Wah! Kakak pinteeer… apa tuh artinya? Misalnya apa?”

S : “Makan, minum… trus…” dia terlihat masih berpikir

B : “Nah, sekarang kalo keinginan itu apa?”

S : “Mmm… misalnya aku pengen beli Play Doh Little Pony…” sambil tertawa riang.

Lalu kami pun tertawa bersama. Sang adik tidak mau kalah, “Kalo aku pengennya squishy banana Bunda…” 😀

Di lain waktu, kami mengobrol lagi tentang kebutuhan dan keinginan. Menguatkan makna yang dipahami oleh Syifana. Maka saya pun menyelipkan sedikit konsep tentang rejeki. Bahwa rejeki itu luas, tidak selalu berupa uang. Saya juga menjelaskan bahwa rejeki yang memberi adalah Allah. Syifana menyimak dan mencerna. Entah apa yang ada di kepalanya. Saya berharap bisa lebih banyak berdiskusi dengannya, sebelum saya mengajaknya naik tingkat ke proses menjemput rejeki dengan cara-cara kreatif yang bisa dilakukan olehnya.

Well, sepertinya saya harus menambah “bekal” lebih banyak lagi sebelum memulai percakapan serius tentang konsep rejeki ini. Dan saya pun harus lebih siap jika ada pertanyaan tak terduga dari anak-anak. Sounds challenging, right? 😀 Let’s see tomorrow. 😉

 

#Day1

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *